Selasa, 24 Maret 2020

school mapping hazard mutlak disosialisasikan kepada penyandang disabilitas di daerah rawan bencana

Satu dari lima prioritas pelaksanaan kegiatan dalam Kerangka Kerja Hyogo (HFA) pada tahun 2005-2015 adalah membangun bangsa dan masyarakat tanggap bencana yang diadopsi 168 negara pada konferensi dunia tentang pengurangan dampak bencana pada tahun 2005 di Kobe. Dalam HFA, dinyatakan peran penting sekolah dalam membangun masyarakat tanggap bencana (UNCRD, 2009: 3). UN/ISDR pun mengkampanyekan pengurangan risiko dimulai di sekolah selama tahun 2006 dan 2007.
Kampanye tersebut ditujukan sebagai pemupukan kesadaran untuk mengutamakan keselamatan sekolah di berbagai negara dan sudah menjadi gerakan global, seperti Pengetahuan dan Pendidikan Dasar Gempa Bumi (Thematic Platform on Knowledge and Education) oleh ISDR dan Gerakan Bersama Dalam Inisiatif Keselamatan Sekolah (Coalition on GlobalSchool Safety Initiatives, COGSS) (UNCRD, 2009: 8).
Di Indonesia pun sudah dibentuk konsorsium Pendidikan Risiko Bencana yang diselenggarakan tahun 2007 lalu. Konsorsium Pendidikan Bencana berfungsi untuk memberikan arahan dan masukan serta memantau dan memonitor kegiatan Konsorsium agar sesuai dengan peta rencana kerja yang disepakati bersama. Komite Pengarah terbentuk pada workshop yang diadakan oleh Konsorsium Pendidikan Bencana tanggal 10 Oktober 2007 dalam rangka memperingati HarPengurangan Risiko Bencana dan terdiri dari LIPI, PMI, MPBI, CBDRM NU, Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), SC-DRR, World Vision International, UNESCO, dan UN OCHA (Profil KPB, 2011).
Hal ini penting karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu di sekolah sehingga kemungkinan gempa bumi terjadi pada saat mereka ada di sekolah sangat tinggi. Oleh karena itu, hal-hal yang sekiranya membahayakan harus bisa dimimalisasi, salah satunya dengan membuat peta bahaya di sekolah (School Mapping Hazard).  Peta bahaya adalah peta yang menyajikan informasi tentang bahaya, pendukung, dan kelompok rentan di dalam ruangan dan lingkungan sekolah yang berfungsi sebagai panduan evakuasi bencana di sekolah (ASB, 2009: 104). Tujuan dari peta bahaya adalah untuk mengurangi risiko bencana yang ditimbulkan akibat gempa.
Sesuatu yang membahayakan di sekolah bagi difabel netra sebetulnya sangat banyak. Sesuatu (benda, tempat) yang tampak tidak membahayakan bisa jadi berbahaya karena difabel netra tidak dapat menggunakan fungsi penglihatannya. Selain itu ada anggapan bahwa desainkebijakan mitigasi, yang menempatkan mereka pada kelompok terakhirdalam penanganannya. Pada level kebijakan praktis di daerah, kaumdifabel juga tidak diposisikan sebagai kelompok yang punya kebutuhankhusus[1]. Berikut ini beberapa contoh bahaya dan beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk menguranginya:
BahayaSolusi
Penataan ruang kelasRuang kelas harus aksesibel untuk difabel netra. Aksesibilitas harus mencakup keselamatan, kemudahan, kegunaan, dan kemandirian. Sebisa mungkin difabel netra belajar di ruangan yang memudahkan ia untuk bermobilitas. Perlu diingat, jika terjadi perubahan tata letak, perlu diinformasikan kepada difabel netra.
LemariLemari jangan diletakkan terlalu dekat dengan siswa maupun guru. Hindari meletakkan barang-barang di atas lemari. Lemari dapat diberi segitiga siku dan dipakukan ke dinding agar kuat.
SelokanDitutup dengan grill agar tak membuat terperosok. Dengan adanya grill, air bisa masuk dalam selokan, kalau ada sampah, grill bisa diangkat dan bisa dipasang kembali.[1]Jika tak ada grill difabel netra bisa terperosok.
TanggaDibuat tidak terlalu curam dan tidak licin
Tiang BenderaTidak dibangun di wilayah yang sering digunakan untuk bermobilitas.
SumurSumur diberi penutup, misalnya papan kayu.
Selain hal yang membahayakan, faktor-faktor pendukung penyelamatan juga dirumuskan. Faktor pendukung ini mencakup segala sesuatu yang dapat mendukung evakuasi, misalnya:
PendukungKeterangan
MejaMeja yang kuat dapat digunakan untuk berlindung jika difabel netra berada di ruangan.
TasUntuk melindungi kepala saat akan keluar ruangan. Menghindari dari tertimpa genting maupun benda lain.
HalamanHalaman yang luas dapat digunakan untuk evakuasi ketika bencana gempa terjadi.
TongkatDiperlukan untuk menganalisis keadaan. Jika tak memungkinkan, dapat traillingsaja dengan tangan.
Pemandu bagi difabel netraDiperlukan jika difabel netra belum memiliki kemampuan O&M yang memadai.
Alas kaki (sandal, sepatu)Untuk menghindari pecahan kaca atau benda-benda berbahaya lainnya.
Kelompok rentan perlu juga dianalisis. Kelompok rentan ini adalah siapa saja yang lebih rentan ketika bencana melanda, misanya manula, ibu hamil, maupun difabel itu sendiri.



[1]ASB.(2009). Aksesibilitas Fisik: Panduan untuk Mendesain Aksesibilitas Fisik bagi Semua Orang di Lingkungan Sekolah. Yogyakarta: ASB Indonesia. h. 26.

[1]Hasil penelitian Saru Arifin. (2008). Model Kebijakan Mitigasi Bencana Alam Bagi Difabel (Studi Kasus di KabupatenBantul, Yogyakarta). Jurnal Fenomena Volume 6-Nomor 1-Maret 2008. http://www.uii.ac.id ; http://dppm.uii.ac.id.

TORCH HAND CAMPAIGN

Tunjukan kepedulianmu terhadap TORCH! Caranya mudah, tulis STOP TORCH di telapak tanganmu, foto, dan share di sosial media. kepedulian sekecil apapun akan sangat berarti bagi sesama.














KOMUNITAS PEDULI TORCH-DWITYA SOBAT ADY DHARMA

Dwitya Sobat Ady Dharma merupakan co-founder Komunitas peduli TORCH, Bersama dengan empat sahabatnya di komunitas lingkar pena – kelompok penulis muda, mereka mengembangkan sebuah komunitas peduli TORCH. Diawali dengan salah satu teman mereka yang mengalami celebral palsy (kerusakan otak) atau CMV – salah satu dari empat penyakit dalam kelompok Torch, membuat dia merasa perlu sebuah komunitas yang tak hanya mendukung para penderita tapi juga memberikan informasi pencegahan awal terhadap penyakit Torch ini. Komunitas itu awalnya bernama Torch Care Youth Community di tahun 2009. Torch adalah kumpulan dari empat penyakit yang memiliki gejala sama meski dengan penyebab yang berbeda yaitu infeksi toxoplasmosis, rubella, cmv dan herpes. Torch menurut dia adalah the silent killer, tak banyak yang tahu dan peduli tapi dampaknya luar biasa menyebabkan kematian dan keguguran pada ibu hamil dan cacat pada bayi.



Di awal gerakan, Komunitas Peduli Torch berhasil merekrut secara tertutup 30 sukarelawan lintas bidang studi. Dan di tahun 2011 sempat mengembangkan kegiatan tes gratis TORCH dan survey tingkat kepedulian masyarakat terhadap penyakit ini. Terkendala masalah dana, kegiatan fisik terhenti dan beralih pada kampanye di sosial media pada 2012. Di awal 2013, jumlah relawan yang tergabung tinggal 6 orang, dua di antaranya adalah inisiator awal dan kembali menggeliat. Mereka bekerjasama dengan kepala desa Mungkit Magelang dan Puskesmas Magelang terus mensosialisasikan bahaya Torch dan mengajak hidup sehat di pojok Torch yang ada di puskesmas. Berkat koneksi ibu Dwitya yang merupakan kader Posyandu di desa Mungkit, gerakan mereka terus berjalan dan meluas melalui arisan-arisan warga.
Komunitas Peduli TORCH tidak bergerak pada pengobatan medis tapi lebih pada sosialisasi untuk hidup sehat karena dalam penyebab torch seperti virus, parasit dan bakteri ada dalam kehidupan sehari hari. Di antaranya mereka mensosialisasikan agar cuci tangan sehabis berkebun, sebelum makan dan memasak daging hingga matang. Sementara untuk pengadaan tes Torch diperlukan dana yang sangat besar, 1 jenis Torch memerlukan 2x tes@Rp 800 ribu rupiah x 4 = Rp 6,4 juta rupiah. Karena itulah Dwitya menegaskan pencegahan untuk meminimalisir terpapar Torch jauh lebih penting daripada mengobati.

 beberapa waktu lalu komunitas kita masuk dalam jejaring ashoka.Inagurasi ini dilaksdanakan di GEPI CIPUTRA WORLD jakarta. inagurasi ini diadakan setelah dilakukan seleksi terhadap beberapa leader. Ashoka adalah sebuah asosiasi global para Wirausahawan Sosial – para individu yang memiliki gagasan inovatif dan praktis, visi, kreativitas dan kegigihan luar biasa bagi terwujudnya perubahan sosial di masyarakat. Sejak 1980 Ashoka telah menjadi pionir dalam bidang kewirausahaan sosial dan telah mendukung lebih dari 3,000 wirausahawan sosial, yang disebut sebagai Fellow Ashoka, di lebih dari 70 negara. Sejak tahun 2005, Ashoka mengembangkan program Young Changemakers untuk mendorong lahirnya pembaharu muda –kaum muda yang menginisiasi gagasan social untuk berkontribusi kepada masyarakat di sekitarnya.  
Ashoka Indonesia, melalui program Young Changemakers dirancang untuk membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memberi dukungan kepada kaum muda yang berkeinginan membawa perubahan positif di tingkat masyarakat dan mendapatkan peluang meningkatkan kemampuan dan keyakinan untuk dapat terus membawa perubahan sosial di masyarakat. Jika hal ini terus bergulir, diharapkan dapat menjadi dasar gerakan kaum muda memimpin pembaharuan di Indonesia dan dunia.









Selasa, 14 Januari 2020

MENUMBUHKAN JIWA KEWIRAUSAHAN SOSIAL MELALUI PROGRAM “MANGROVE FOR LIFE” DI SEKOLAH INKLUSI

MENUMBUHKAN JIWA KEWIRAUSAHAN SOSIAL MELALUI PROGRAM “MANGROVE FOR LIFE” DI SEKOLAH INKLUSI
Authors
Dwitya Sobat Ady Dharma
Publication date
2015/11/24
Conference
Simposium Nasional Riset Pendidikan II tahun 2015 “Guru Transformatif untuk Pendidikan yang Lebih Baik”

school mapping hazard mutlak disosialisasikan kepada penyandang disabilitas di daerah rawan bencana

Satu dari lima prioritas pelaksanaan kegiatan dalam Kerangka Kerja Hyogo (HFA) pada tahun 2005-2015 adalah membangun bangsa dan masyarakat...