Senin, 13 Januari 2020

Keterlibatan Siswa



Lingkungan belajar yang menyenangkan akan membuka minat siswa ke tingkat yang lebih tinggi sehingga besar kemungkinan keaktifan siswa akan terjaga sampai tujuan pembelajaran tercapai. Pembelajaran yang dirancang harus kreatif dan melibatkan siswa dan mendorong siswa mengembangkan kemampuan secara maksimal. Untuk mendorong dan mendukung kemajuan keterlibatan, sangat diperlukan scaffolding yang bersifat rekognisi sehingga diharapkan ABK secara perlahan mampu terlibat secara aktif sebagai dampak dari pembiasaan.
 
Kemampuan untuk terlibat dalam pembelajaran memerlukan kemampuan self-regulation siswa yang memiliki lima domain yaitu biological, emotional, cognitive, social, dan prosocial (Shanker, 2013). Self-regulation merupakan sebuah proses yang membantu siswa mengatur keinginan, dan perilaku mengelola pikiran (Ramdass&Zimmerman, 2011) sehingga mampu mengendalikan emosi dan tekanan (Shanker, 2012). Self-regulation ini juga berkaitan dengan self-concept dan self-esteem sehingga sebelum anak dapat terlibat dengan baik di kelas, kemampuan tersebut harus berkembang baik dalam diri anak

Inklusi Multikultur: Kiblat Baru Pendidikan ABK (oleh Dwitya Sobat Ady Dharma, M.Pd.)



Keadaan sosial yang semakin beragam di ruang kelas memiliki fungsi yang strategis untuk mengembangkan toleransi, sekaligus manjadi tantangan besar bagi pendidik. Tantangan ini dapat berupa bagaimana merancang kurikulum yang mengakomodasi keberagaman sehingga dapat menciptakan kultur sekolah yang kondusif. Tantangan lain berupa tidak pekanya warga sekolah berinteraksi dengan siswa ABK, pendidik yang kebingungan dalam merancang materi, maupun warga sekolah yang masih bersifat primordial sempit dan kesukuan.
Jika dipahami, tantangan akan keberagaman yang semakin tinggi wajar terjadi, namun akan menjadi ancaman besar apabila sekolah tak mampu merespon dengan bijak. Institusi pendidikan yang masih belum dapat mengelola keberagaman hampir membawa dampak negatif bagi peserta didik. Hasilnya cukup mengerikan, peserta didik kurang memiliki toleransi dalam berbagai hal, masih melakukan diskriminasi pada kelompok minoritas, dan bersikap ekstrem.

 Tantangan Keberagaman
Sebagai negara yang majemuk, institusi pendidikan pun tak lepas dari nuansa keberagaman. Bukan hanya terkait dengan kebutuhan khusus, namun juga dari suku, ras, agama, status sosial ekonomi, maupun pandangan hidup. Terlepas dari latar belakang yang berbeda, keberhasilan pendidik dalam mengelola kelas yang beraneka ragam tergantung dari cara pandang guru dalam merespon perbedaan.
Apabila dicermati, usaha-usaha menumbuhkan semangat keberagaman di sekolah inklusi masih bersifat sempit. Konsep yang diusung masih bersifat dikotomi antara siswa reguler dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sekolah yang masih menempatkan siswa ABK sebagai pihak yang berbeda dan dikasihani, tidak akan membangun rasa toleransi yang pada akhirnya akan mencederai keberagaman.
Munculnya keadaan ini disebabkan karena sistem pendidikan masih mengotak-kotakkan peserta didik berdasarkan perbedaan, sehingga akan tercipta istilah anak inklusi dan siswa reguler. Pandangan ini kurang tepat karena pada dasarnya setiap anak adalah unik dan pasti membutuhkan penanganan yang berbeda. Apabila stigma ini masih melekat kuat, sekolah seolah-olah mendapatkan beban ketika ada ABK yang mendaftar. Keadaan ini bisa diurai dengan mengubah pola pikir sempit menjadi pola pikir inklusif dan kemanusiaan.

Inklusi Multikultur
Kita harus merubah cara pandang bahwa pendidikan inklusi bukan hanya terkait dengan ABK dan non-ABK. Salamanca Statement (1994) sangat jelas menyebutkan bahwa pendidikan inklusi yang dilaksanakan mencakup semua kondisi anak baik fisik, intelektual, sosial ekonomi, linguistik, dari penyandang disabilitas maupun anak berbakat, anak jalanan dan pekerja, anak dari populasi terpencil, etnis minoritas atau anak yang berasal dari daerah konflik dan perang.
Semangat inklusi didasari pikiran terbuka sebagai respons pada peningkatan keanekaragaman populasi dan kesetaran pada semua kelompok. Pendidikan inklusi harus diterjemahkan dalam segala kegiatan berwawasan multikultural yang dapat membantu peserta didik mengerti, menerima, serta menghargai individu yang berbeda suku, budaya, nilai, kepribadian, dan keberfungsian fisik (ABK).
Pendidik sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan inklusi multikultur harus mampu merancang pembelajaran yang bermakna, tidak sekedar materi, memberi kesempatan peserta didik membuat keputusan untuk dirinya sendiri, bermanfaat bagi lingkungan sosial, dan lingkungan alam. Untuk merancang pembelajaran dan kultur sekolah yang inklusif, harus ada kerjasama yang masif dari sekolah, stakeholder dan orang tua untuk menyiapkan kurikulum yang membuat kelas-kelas menjadi relevan secara budaya.

Strategi Penerapan
Implementasi pendidikan inklusi multikulur memiliki banyak strategi,  seperti mendorong ABK berprestasi dari berbagai bidang, festival lintas budaya dan agama, apresiasi seni, kuliner, maupun pembelajaran kolaboratif dan kooperatif.  Kegiatan dapat juga dilakukan dengan  menggabungkan budaya siswa dengan dunia sekolah sehingga kontekstual dengan dunia siswa.
Strategi penyisipan nilai-nilai inklusi multikultur dapat dilakukan dengan menghindari labelling saat pembelajaran, tidak bersikap diskriminatif pada siswa minoritas, menunjukkan sikap menghargai lintas budaya dan agama, serta toleransi.  Beberapa keunggulan dari penyisipan nilai inklusi multikultur dalam kultur sekolah adalah siswa dapat menjalin kontak pribadi yang positif dengan siswa yang beragam, siswa dapat terlibat dalam pengambilan perspektif, dan dapat mengurangi stereotip pada  kelompok-kelompok tertentu, misalnya penyandang disabilitas.
Karenanya, perlu ada revitalisasi pendidikan inklusi multikultur yang memandang keberagaman tidak hanya dari siswa ABK dan non-ABK, namun juga dapat merespon segala bentuk keberagaman. 

(dimuat di harian Kedaulatan Rakyat 5 Desember 2019)

Sabtu, 08 Oktober 2016

KURIKULUM KHUSUS UNTUK TUNANETRA (BAGIAN 1)



Dwitya Sobat Ady Dharma
Kurikulum khusus merupakan kurikulum yang dirancang khusus untuk difabel. Kurikulum ini diberikan agar tunanetra dapat mengembangkan potensinya. Misalnya life skill yang meliputi kecakapan personal (kecakapan mengenal diri; self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skills). Kurikulum khusus bagi tunanetra berupa training Orientasi dan Mobilitas (O&M).[1] Sebagaimana struktur kurikulum yang telah dikembangkan, substansi muatan program khusus bagi tunanetra bertujuan untuk memandirikannya agar dapat beraktivitas dengan meminimalisasi bantuan orang lain, salah satunya untuk memperluas akses keselamatan ketika gempa melanda.

Lowenfeld (1981)[2] menjelaskan jika,
“Orientation and Mobility (O&M) is the ability of children to move about his environment and interact with it has important educational and social effect. Educationally, it allow him to develop realistic conceps about his environment and thus enables him to participate more fully in learning experiences with seeing children. Socially, it helps to dispel the notion that visually impairment persons are helpless and dependent, and fosters the notion they can become fully participating and contributing members of society.”

Berdasarkan pernyataan Lowenfeld, O&M merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dan berinteraksi dalam lingkungan, yang mempunyai manfaat strategis dalam segi edukasi dan sosialnya. Dalam segi edukasi, akan mengembangkan konsep yang nyata tentang lingkungan dan memungkinkannya untuk lebih berpartisipasi dalam proses belajar. Dalam segi sosial, kemampuan O&M membantunya untuk menyingkirkan pendapat bahwa tunanetra adalah seseorang yang tak berdaya dan selalu bergantung. Harapannya, mereka dapat berpartisipasi penuh dan berkontribusi sebagai anggota masyarakat.

Tujuan training O&M terkait dengan pandangan bahwa  pembelajaran konsep dasar O&M pada tunanetra sedini mungkin akan membuatnya lebih paham akan dirinya dan lingkungan (dalam tujuannya untuk menyelamatkan diri). Heward dan Orlansky (1988)[3] pun mengatakan bahwa “It is extremely important that, from an early age, visually impaired children be taught basic concepts that will familiarize them with their own bodies and their surroundings.” Memang, tahun-tahun pertama pada anak merupakan kesempatan yang tepat untuk melatih dan mengembangkan kemampuan mengenali dirinya sendiri dan lingkungan, sehingga diharapkan dapat meminimalisasi ketergantungan tunanetra kepada orang lain.   

Horton (1986) juga mengatakan,
“With training O&M, however, these people can learn to move safely around their villages. This allows them more freedom and makes them less dependent on family and friends. Children can learn to walk to school and adults can learn to walk to work or to the garden. When blind people can travel safely in familiar surroundings, they can become more active in family and community activities.”[4]

Dari pendapat tersebut dapat dilihat urgensi dari training O&M. Kemampuan O&M akan membuatnya lebih bebas dan tidak tergantung dari kerabat dan temannya. Oleh karena itu tujuan akhir dalam training O&M adalah membuatnya mampu memasuki setiap lingkungan yang dikenal maupun tidak dikenal dengan aman dan efisien. O&M mengajarkan tunanetra untuk dapat bergerak dan menyelamatkan diri ketika orang-orang melupakannya. Adapun tujuan meningkatkan kemampuan O&M adalah agar tunanetra dapat bergerak dengan selamat, bergerak dengan mandiri, dan dapat bergerak secara efektif serta efisien.


[1]Buku Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Program Khusus Orientasi dan Mobilitas. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. (2007). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Orientasi dan Mobilitas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
[2]Blackhust, A. E. and Berdine, W. H. (1981). An Introduction to Special Education. Toronto: Little, Brown and Company.h. 230.
[3]Heward, W. L. and Orlansky. (1988). Exceptional Children: An Introductory Survey of Special Education. Ohio: Merril Publishing Company. h.317.
[4] Horton, J. K.. (1986). Community Based Rehabilitation of The Rural Blind (A Training Guide for Field Workers). New York, USA: Helen Keller Internasional, Inc. h .9.

school mapping hazard mutlak disosialisasikan kepada penyandang disabilitas di daerah rawan bencana

Satu dari lima prioritas pelaksanaan kegiatan dalam Kerangka Kerja Hyogo (HFA) pada tahun 2005-2015 adalah membangun bangsa dan masyarakat...