Pada kesempatan ini, kita akan membahas sebuah tema yang menarik
tentang proses kreatif membuat karya dari pengalaman sehari-hari.
Tentu sahabat bertanya, bukankah karya itu sangat banyak
bentuknya? Juga yang namanya pengalaman sehari-hari itu juga sangat banyak
ragamnya.
Oleh sebab itu, kita pada edisi ini, akan lebih terfokus
pada karya tulis. Karya tulis ini memiliki dua ragam bentuk. Bentuk yang
pertama adalah fiksi seperti cerpen,
flash fiction, puisi, atau mungkin mungkin. Bentuk yang kedua adalah non-fiksi, seperti esai, opini, ataupun
makalah.
Nah, selama membersamai teman-teman yang tergabung dalam
program penelitian internal, muncul beberapa permasalah, misalnya:
1.
Kesulitan dalam mengemas ide yang berserakan.
2.
Kesulitan dalam membagi waktu, antara pekerjaan,
urusan rumah tangga, bisnis pribadi, dsb
3.
Ide yang mandeg/ terhenti. Sehingga menulis
seperti beban. Frustasi, stress, malas.
4.
Kesulitan dalam mengembangkan paragraf.
5.
Tidak percaya diri dalam menulis
Dan masih banyak permasalah yang lain, yang sebetulnya
ketika digali lagi akan ada banyak yang akan ditemukan. nah, ketika dicermati,
ketika ada banyak sekali permasalahan yang muncul, permasalahan ini mengarah
pada satu sebab. sebabnya adalah kegiatan yang dilakukan belum bermakna secara
personal. Mengapa belum bermakna, karena masih belum menemukan passion.
Akibatnya, kegiatan menulis menjadi kegiatan yang menyiksa, ingin segera
mengakhiri, ingin lepas.
Di sisi lain, ada banyak juga orang yang menulis hingga
larut malam, ketika ia istirahat, ia ingin segera menulis lagi, ingin segera
menyelesaikan, apabila telah selesai pun ingin segera memulai hal baru. Ini
bisa terjadi karena ia menemukan makna, menemukan keasyikan, sehingga kegiatan
ini menjadi fun.
Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, kita akan membahas bagaimana
proses kreatif membuat tulisan, agar kita tidak terjebak dalam rutinitas dan
tetap menjadi kegiatan yang menggembirakan.
Yang pertama, sahabat
harus menggali makna terdalam mengapa saya membuat karya tersebut. Makna
terdalam ini sangat berbeda-beda setiap orang, misalnya apakah membuat karya
karena uang, karena hobi, karena tuntutan pekerjaan, atau mungkin karena sedang
mengikuti program menulis. Sehingga makna terdalam dari tiap orang ini sangat
berbeda-beda.
Sahabat, apabila dalam membuat karya ini terasa berat, coba
jujur pada diri sendiri, motivasi terbesar apa yang membuat sahabat mau membuat
karya. Beberapa orang mampu mempertahankan motivasinya karena memang ada hal
yang membuatnya selalu lekat dengan kegiatan tersebut. Kalau kata para
motivator, ini disebut passion. Kalau sudah passion, mau sebesar apapun
kegiatan, seberat apapun kegiatan, pastilah dilakukan tanpa beban.
Nah, apabila kita masih ada ganjalan dalam membuat karya,
membuat karya serasa hukuman, tidak rileks, tegang, coba gali lebih dalam lagi.
Penggalian ini bisa dengan mengendapkan pikiran karena untuk menjernihkan air
yang keruh adalah dengan mendiamkannya. Apabila dengan cara ini masih sulit
dalam membuat karya, coba cara yang kedua ini.
Cara yang kedua
adalah menggali ide dengan mengasah kepekaan kita. Sahabat, setiap benda yang ada
di sekitar kita, menyimpan banyak ide yang bisa kita eksplor. Misalnya
kemoceng. Bagi yang cuek, banyak yang hanya memikirkan kemoceng hanya alat
untuk bersih-bersih. Tapi coba kita cermati ya sahabat.
Kemoceng ini ada banyak unsur, ada bulu ayam, ada tongkat
rotan, ada pengait, ada paku, ada tali. Dengan berbagai macam unsur ini,
pernahkan kita berpikir ada cerita apa di balik unsur tersebut? Misalnya bulu
ayam: sebelum bulu ini siap ditempel di batang rotan, ada seseorang yang
berjasa. Siapa dia. Pertama, peternak ayam. Kedua, orang yang menyembelih ayam.
Ketiga, orang yang mencabuti bulu ayam, menyortir bulu ayam, mencuci, memberi
pewarna, menjemur. Setelah itu ada orang yang merangkai. Begitu panjang sekali
prosesnya, bukan?. Itu baru satu unsur saja sahabat. Belum lagi rotan, paku dan
lain sebagainya.
Di satu benda saja ada banyak cerita, apalagi kalau dalam
kehidupan sehari-hari kita sering berjalan-jalan, membeli banyak barang, suka
bertemu dengan orang. pastinya ide sangat banyak.
Nah, mungkin ada yang bertanya: kalau ide sangat banyak,
tapi kok tetap tidak bisa membuat sebuah karya?
Pesan saya, jangan memperumit diri. carilah sesuatu yang
sederhana, dekat dengan diri kita, tidk usah mencari hal-hal aneh agar terlihat
keren. Jika sahabat seorang guru, cari ide terdekat dengan pembelajaran. Jika
seorang jurus masak, bisa menulis kumpulan resep. Jadilah ekspert di bidangnya
masing-masing.
Jika masih kesulitan juga, Ada tips yang ketiga.
Yang ketiga
adalah kuasai cara memproduksi atau
mengemas ide menjadi sebuah karya. Sahabat, ada dari kita sering mengaku
punya banyak ide, tapi kok tetap tidak bisa membuat sebuah karya? Bisa jadi
seseorang tersebut masih belum menguasai bagaimana cara mengemas ide.
Pertanyaan yang dilontarkan kemudian, bisa jadi seperti ini:
bagaimana mengemas ide menjadi sebuah karya? Atau masih bingung cara
mengemasnya?
Sahabat, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda
bagaimana mengemas ide agar menjadi karya. Untuk saya secara personal ada
beberapa langkah:
1)
Tentukan
jenis karya yang akan kita buat. Apakah esai, apakah opini di surat kabar,
apakah makalah, buku, cerpen?
2)
Setelah menentukan jenis karya, kita bisa mencermati berbagai karya yang serupa
dari orang lain. Misalnya, ketika kita ingin membuat opini di surat kabar, kita
bisa sering-sering membaca opini di surat kabar. Mencermati alurnya, berapa
kata, template nya. Bisa juga ditambah bagaimana proses pengiriman.
3)
Setelah mencermati, maka kita harus, mau tidak
mau wajib untuk segera menulis. Ini
terkait dengan proses kreatif yang keempat, yaitu segera mengemas ide agar
tidak lupa.
Keempat, ya mau tidak mau kita harus segera
memproduksi karya agar ide yang bagus tidak hilang atau terlupa. Bisa jadi,
ada juga yang berkomentar, wah...kayaknya kok tetap tidak bisa menulis ya?
Kalau memang begini, berarti sahabat kurang asupan buku-buku
bergizi. Di manapun, menulis membutuhkan membaca, membaca membutuhkan menulis.
Dua kegiatan ini adalah kegiatan yang tidak bisa dipisakan. Dengan membaca,
secara tidak langsung kita menabung kata-kata. Dan percaya atau tidak,
buku-buku yang kita baca akan banyak berpengaruh pada kosa kata yang kita
gunakan.
Semoga bermanfaat ya..nantikan sharing selanjutnya
(Dwitya Sobat Ady Dharma)