Selasa, 20 September 2016

BA-PER DAN GANGGUAN KEPRIBADIAN



Dalam dunia psikologi, masa remaja sangat berpengaruh pada fase-fase berikutnya. Ketika anak beranjak memasuki masa remaja, proses kogntif meluas saat anak mengembangkan kapabilitas untuk berpikir abstrak dan kapasitas untuk memahami perspektif orang lain. Masa ini sangat penting karena anak akan mengontruksikan identitas yang akan memberikan basis kuat bagi masa dewasanya kelak. Bila remaja gagal mengintegrasikan semua aspek dan pilihan  dalam hal nilai-nilai, ideologi, peran, dan tujuan hidup, mereka tidak akan memilih menjadi apa yang mereka inginkan dan hanya mengembangkan kepribadian ilusi.

Bagi sebagian remaja yang gagal, akan terjadi penutupan identitas yang merupakan  masa-masa tanpa eksplorasi. Remaja yang identitasnya tertutup tidak bereskperimen dengan identitas-identitas yang berbeda, dan hanya sekadar mengomitmen diri tanpa tujuan. Kegagalan identitas ini akan berakibat masa dewasa akan mengalami kesepian jiwa, apati, dan menarik diri, dan mengabaikan kewajiban.
Orang dengan identitas gagal pada masa remaja akan mengalami gangguan perasaan yang sering disebut juga gangguan afektif. Kelompok gangguan ini mencakup depresi dan gangguan bipolar sehingga akan berubah-ubah dari ekstrem tinggi ke ekstrem rendah saat menerima situasi yang tidak mampu dikontrol, tidak mampu menerima kritik dan kegagalan dalam menerima berbagai perspektif.

Di masa kini, gangguan semacam ini sering dikaitkan dengan istilah baper. Orang yang mengidap baper, akan cenderung berpikir tidak rasional dan mudah berilusi pada sesuatu. Kecenderungan ini mencerminkan temperamen, yaitu gaya perilaku dan respon dari seseorang. Tentu saja ketika baper tidak berkelanjutan, itu mungkin hanya respon sesaat. Akan tetapi ketika respon irasional selalu menghinggapi cara menyelesaikan masalah yang dilakukan, hal tersebut termasuk dalam gangguan kepribadian.  Wallahu’alam.

Jumat, 16 September 2016

KETIDAKBERDAYAAN LOGIKA



Dalam sebuah mata kuliah logika, kita mempelajari metode induksi sebagai  salah satu metode cara mendapatkan kebenaran. Induksi adalah cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus khusus. Penalaran ini dimulai dari fakta-fakta yang bersifat khusus kemudian diakhiri dengan peryataan yang bersifat umum. 

Apabila kita berpikir dengan serampangan, metode inilah yang seringkali membuat kita melakukan justifikasi tanpa berpikir jauh. Misalnya, (A) Nanas rasanya asam, (B) Belimbing rasanya asam, (C) Mangga rasanya asam. Kesimpulannya, semua buah rasanya asam. Dari semua premis tersebut, kesimpulan yang diambil adalah benar. Akan tetapi, apakah semua buah rasanya asam? Tentu saja tidak.

Logika memang bertujuan membantu berpikir lurus, efisien dan tepat untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Akan tetapi, kita terkadang melupakan metode-metode lain dan hanya percaya pada satu sudut pandang saja. Perilaku seperti ini yang sering dilakukan oleh media-media zaman sekarang untuk menggiring opini publik.
Bagi saya ini tidak adil.

Senin, 11 Juni 2012

Pendidikan Inklusi dalam Alquran


Pendidikan inklusi merupakan pendidikan memberikan kesempatan yang adil kepada anak untuk bisa mengikuti pendidikan tanpa perbedaan gender, etnik, status sosial-ekonomi dan kemampuan. Salamanca Statement menyebutkan bahwa pendidikan inklusi berarti sekolah mencakup semua kondisi anak baik itu fisik, intelektual, sosial ekonomi, linguistik, dari penyandang cacat maupun anak berbakat, anak jalanan dan pekerja, anak dari populasi terpencil, etnis minoritas atau anak yang berasal dari daerah kurang beruntung. Pendidikan inklusi menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan individu siswa, agar kebutuhan individu anak terpenuhi.

Dalam Islam, pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Allah SWT berfirman dalam Surat ‘Abasa ayat 1-11, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali janganlah (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan adalah suatu peringatan.”

Surat tersebut dikisahkan dalam Al Qur’an ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Kemudian datanglah Ibnu Ummi Maktum (Abdullah bin Ummi Maktum), seorang sahabat yang buta dan berharap agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  membacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an yang telah diturunkan. Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum. Kemudian Allah menurunkan Surat ‘Abasa sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap Abdullah bin Ummi Maktum.

Berdasarkan ayat tersebut, pendidikan sudah seharusnya dilaksanakan, tak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Islam telah memperhatikan pendidikan anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan yang islami tanpa membedakan keterbatasan yang ia miliki. Semua itu diberikan agar seorang anak berkebutuhan khusus dapat mengetahui batasan dan petunjuk yang dapat mengantarkan dirinya kepada kehidupan yang lebih berkualitas. Dalam menjalankan misi pendidikannya, Islam terlebih dahulu mempersiapkan dan memfokuskan pada individu secara personal yang dimulai dari pembentukan akhlak mulia. Menurut Asy-Syaikh Fuhaim Musthafa, hal ini dikarenakan Islam menilai bahwa individu harus dapat merajut hubungan kekeluargaan dalam masyarakat yang dibentuk secara fitrah, nilai-nilai, dan pemahaman kemanusiaan. 

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Hal ini menjelaskan bahwa membentuk pribadi anak berkebutuhan khusus merupakan keharusan yang dapat dilakukan melalui pendidikan yang berkualitas dan islami tanpa terkecuali.

Aktivis Prestatif yang Didamba


Mahasiswa mendapatkan tanggung jawab khusus untuk dapat memberikan kontribusi solutif bagi permasalahan kehidupan bangsa, yang lebih jauh lagi dapat merubah keadaan politik suatu negara. Hal ini berpijak dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan, cadangan masa depan dan garda terdepan sangatlah tinggi.

Dalam kegiatan yang dilakukan di perguruan tinggi, nilai akademik memang penting untuk kelancaran perkuliahan. Akan tetapi, proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas penguasaan ilmu pengetahuan saja. Mahasiswa juga harus memiliki karakteristik positif misalnya peka terhadap isu-isu nasional.

Memang, mahasiswa tidak dapat mengandalkan akademik semata untuk mengembangkan potensi dan memantapkan kepribadian. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki wadah yang berorientasi pada kegiatan di luar akademik bagi pengembangan kualitas dan kapasitas diri, misalnya Badan Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa, maupun Unit Kegiatan Mahasiswa.

Akan tetapi, melalui wadah inilah mahasiswa dengan segala idealismenya sering melakukan aksi-aksi untuk menuntut segala sesuatu yang dipandang tidak ideal. Patut disayangkan, dengan adanya tindak aksi-aksi yang berujung pada perusakan, sesungguhnya peran mahasiswa patut dipertanyakan apakah mereka mengerti akan apa yang diperjuangkan atau hanya sekedar ikut-ikutan?

Mahasiswa yang mengerti demokrasi seharusnya dapat menyuarakan persoalan etika, budaya dan sosial secara independen dan dengan penuh tanggung jawab intelektual. Dan hal tersebut tidak terlihat dalam aksi mahasiswa yang tidak tahu makna demokrasi, dimana cenderung berbuat anarkis. Padahal, barang-barang yang ikut dirusak (misalnya mobil dinas, pagar, maupun kaca gedung yang dipecahkan) juga merupakan uang rakyat yang seharusnya dijaga dengan baik.

Maka, tidak berlebihan bila aktivis kampus yang cenderung anarkis tidak dapat dikategorikan sebagai agen perubahan, cadangan masa depan dan garda terdepan. Sejatinya, mahasiswa diharapkan dapat menghasilkan karya solutif untuk kelangsungan dan kehidupan bangsanya, baik secara akademik maupun non akademik. Akan lebih baik lagi jika mahasiswa aktivis berlaga melalui tulisan di surat kabar. Melalui jalur ini, kapasitas intelektual mahasiswa akan semakin diakui daripada sekedar teriak-teriak di depan gedung dewan yang belum tentu didengar.

Tentu saja sebagai mahasiswa yang mengerti akan kewajibannya sebagai pembelajar, nilai akademik tetap menjadi sesuatu yang harus dijaga. Boleh dibilang belum banyak mahasiswa yang dapat mengimbangkan kegiatan akademik dan organisasi, yang biasanya mahasiswa aktifis dengan nilai tipis atau mahasiswa dengan IPK tinggi tapi minim organisasi.

Jumat, 27 Januari 2012

Strategi Pembelajaran Memang Harus Beda (Kisah Antara Ngajar Anak Difabel, SMA, dan SD)




Selagi muda, kita emang harus mencoba segala sesuatu yang positif. Nah, bagi kita yang lulusan sarjana pendidikan, banyak-banyak deh cari pengalaman mengajar (apapun jurusannya). Selain membuat diri kita menjadi lebih kreatif, juga akan mengembangkan diri dan membuat kita tidak konservatif.
Walau lulus belum ada satu tahun, saya pernah mencicipi ketiga hal tersebut-mulai dari anak difabel, siswa SMA, dan anak SD. Beda bangetlah cara ngajarnya. Kita pun harus pinter-pinter ngrebut hati mereka, supaya kita jangan sampai makan ati (cz kalo udah makan ati, rasanya sakiiiiiit banget. Percaya deh!)
Dimulai dari siswa difabel. Yah, ini pengalaman saya mengajar untuk pertama kali di kelas. Secara emang waktu itu saya dapet kesempatan KKN di Yayasan Anak-Anak Tuna (YAAT) Klaten. Di sana sebagian besar tunanetra (masalah di penglihatannya), tapi ada juga yang tunadaksa dan hidrocepalus. Satu yang bikin aku harus puter otak banget kalo ngajar anak difabel: MEREKA NGGAK BISA NGELIHAT! Pernah aku ngajar biologi anak kelas 7. Gimana coba cara ngejelasin apa itu sel, sedangkan mereka lihat sel aja belum pernah? Terus istilah-istilah abstrak yang kadang nggak kejangkau sama nalar kalo harus dikongkritkan? Apa iya mereka tahu pelangi itu yang kaya gimana, terus konsep warna, bintang, bulan.... nah, makanya guru pun harus kreatif. Yang penting jangan underestimet dulu deh, toh dari beberapa anak di YAAT ada yang pernah dapet rekor MURI. Keren nggak tuh!!

Nah, beda lagi nih kalo ngajar siswa SMA. Secara saya masih muda, kayaknya emang keakraban bisa muncul dengan sendirinya. Jarak umur pun tak terlalu jauh, jadi ya...gitchu deh. Bahasa untuk komunikasi di cyber pun bahasa-bahasa alay. Kalo strategi untuk ngajar, yang pertama kita emang harus paham betul materinya. Jangan sampai kita ngajar tapi malah lebih pinter muridnya. Dong dong banget nggak sih! Apalagi kan putih abu-abuers itu kritis banget. Yang kedua, tentang bagaimana membawa suasana belajar menjadi lebih menarik. Jangan sampai kita udah cuap-cuap ngoceh di depan, eh....siswanya malah bobok manis. Sungguh terlalu..hiks..hiks...
Kalo ngajar anak SD...krik....krik...(speacless aku). Tampaknya membawa suasana menjadi lebih menarik mendapat porsi yang lebih tinggi daripada materi (ini khusus anak-anak kelas bawah, kelas 1 dan 2). Pernah nih, saya marmosi gara-gara anaknya rame....dolanan bekel pas pelajaran, nggambar-gambar gak jelas, atau kejadian pekan lalu:pas lagi ngejelasin di depan kelas, tiba-tiba ada yang jorog-jorogan, trus malah nangis-nangisan....ya Allah....berilah hamba kesabaran... Perasaan saya dulu pas SD nggak se-ekstrem itu deh...

Beda anaknya, beda cara ngajarnya. Itu udah pasti. Tapi dari ketiga pengalaman itu, ada satu persamaan. Saya selalu menganggap mereka itu saudara! Bahkan sampai sekarang pun saya masih berkomunikasi dengan banyak siswa, walaupun kini saya nggak ngajar mereka lagi. bagi saya, mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Saya pun pengen suatu hari nanti ada yang menyapa saya di jalan, terus mereka bilang, “Pak Sobat, masih inget saya nggak? Saya murid bapak dulu....” Wiiiii merinding disko. Biar kita disapa suatu hari nanti, makanya jangan jadi guru galak, judes, killer, menyebalkan, berdarah dingin, jarang senyum, sok otoriter, beri PR kebanyakan....weleh...weleh....
Yup, saya suka mengajar karena emang hobi saya...hehey....ceritanya lanjut besok yah....

Jumat, 09 September 2011

Plontos: Sebuah Filosofi

Justru bagi siswa yang memplontos kepalanya tanpa tujuan yang jelas adalah sesuatu yang terlarang, bahkan dapat terkena point. Hal ini tentu dimaksudkan agar filosofi gundul yang berarti membersihkan jiwa dapat diterima, paling tidak untuk sebuah opini publik di kawasan pesantren. Memang, tak dapat dipungkiri jika suatu saat ada siswa (santri) yang keluar dari kamar asrama dan berkepala plontos, dapat diduga ia telah melakukan sebuah pelanggaran. Cara memprosesnya pun bermacam-macam, ada yang diadili ramai-ramai di tengah lapangan dan satu persatu siswa disuruh ikut ambil bagian untuk memplontos kepala si pesakitan (hmm..cukup kejam memang, tapi ini sangat efektif untuk memberikan sebuah pelajaran agar tak melanggar tata tertib), atau mungkin saja ada Ustadz yang berbaik hati meluangkan waktunya untuk menjadi tukang cukur dadakan. Ada dua hal penting di sini. Yang pertama harus digarisbawahi adalah kepala plontos berarti upaya untuk membersihkan jiwa, bukan berarti untuk mengecap santri berkepala plontos sebagai seorang pesakitan. Yang kedua, kalaupun memang upaya men-jerakan santri dengan membabat habis rambutnya adalah sebuah hukuman, tentu bukan semata-mata hukuman, tetapi lebih kepada filosofi dari proses pengundulan itu sebagai upaya membersihkan diri dari dosa.


Plontos pun sering digunakan sebagai pelabuhan akhir dari sebuah nazar. Banyak contohnya, misalnya beberapa aktivis KPK yang ramai-ramai memlontos kepalanya karena mengetahui Nazaruddin telah ditangkap dan dikeluarkan dari Partai Demokrat. Atau para tim sukses di pemilukada yang juga merelakan rambutnya dibabat karena jagoannya menang dalam pemilukada. Jika dicermati, gejala sosial ini terjadi dikarenakan beberapa sebab. Yang pertama, masyarakat masih memandang bahwa rambut adalah mahkota yang sebisa mungkin dijaga, dan karena begitu berharganya maka orang pun sampai rela menggadaikan sesuatu yang berharga itu jika impiannya terwujud. Yang kedua, gundul dapat dikatakan sebagai sebuah perefleksian dari “kelegaan” yang harus ditunggu sekian lama. Banyak contoh, misal “jika aku sudah selesai skripsi, aku mau botakin kepala”, “kalo aku bisa dapet beasiswa ke luar negeri aku mau plontos”, dan lain sebagainya.

Plontos pun dapat diartikan sebagai sebuah kedewasaan. Bukan sebuah keterpaksaan manakala ada seorang lelaki yang harus membabat rambutnya karena bagian depan sudah tampak menipis. Tentu tak usah khawatir. Banyak ahli yang merilis penelitiannya bahwa lelaki yang rambutnya rontok salah satunya dikarenakan hormon testosteron yang berlebih. Maka tak heran, lelaki yang berambut tipis lebih memiliki “inner” yang tak dimiliki oleh lelaki pesolek. Yup, okay, kita sekarang berbicara tentang masalah kejantanan. Lelaki yang “high quality” tentu tak direpotkan oleh masalah rambut (opini subjektif hihihi). Lihat, jarang kan melihat pemain bola yang berambut gondrong?


Memang masyarakat masih memandang plontos sebagai sebuah “hukuman”. Hal ini tak terlepas dari gejala-gejala sosial yang terjadi. Misalnya saja ada pemuda yang tertangkap mencuri lantas digundul. Atau seorang narapidana yang baru masuk bui biasanya juga diplontos. Anak-anak yang menginap di panti rehabilitasi juga sebagian besar dibabat habis rambutnya. Akan tetapi, mengunduli kepala tentu memiliki sebuah makna yang mendalam yaitu sebuah pembersihan jiwa, putih bersih seperti bayi yang juga berkepala gundul.


Sekarang pun lelaki berkepala gundul tampaknya sudah menjadi tren tersendiri karena akan terlihat lebih fresh. Bahkan kalau Anda lelaki yang baru saja menikah, tampaknya berkepala plontos dapat memudahkan Anda untuk mandi junub.

Selasa, 15 Februari 2011

450 gram: 16 Kisah yang Mengaduk Emosi (sebuah komentar 15 menit)

Judul : 450 gram, Perjuangan bayi-bayi prematur menghirup nafas kehidupan
Karya : Christine Gleason
Penerbit : B-first (PT Bentang Pustaka)
Tahun : 2009
Tebal : vi+398


Sebuah kebetulan, dulu ketika aku sedang memuaskan diri di sebuah toko buku, aku menemukan buku yang berjudul 450 gram. Sesaat setelah aku memegangnya, aku lantas meletakkan kembali dan lebih memilih membeli Sabili. Dan sekitar satu tahun setelahnya, aku menemukan buku itu di Islamic Book Fair dengan harga yang jauh-jauh di bawahnya-only Rp.15.000,- aku pun membelinya. Oportunis : )


Kata Sherwin Nuland-penulis How we die and the soul of medicine, itu termasuk buku yang luar biasa. Susan Wiggs (Fireside) pun mengatakan bahwa 450 gram merupakan memoar yang ditulis dengan emosi yang meluap-luap dan akan mengaduk-aduk perasaan kita.


Memang benar, buku yang berisi 16 kisah itu memang sangat touchy. Apalagi memang hampir semuanya menceritakan tentang seorang yang bertahan hidup. Ada beberapa kisah yang berujung pada kematian, tapi tidak semuanya berkisah tentang hal menakutkan itu. Ada kisah yang berakhir indah, seperti kisah Travis pada bab ke 9.


Tapi seperti buku terjemahan kebanyakan, kadang kala “rasa” yang ditulis penulis aslinya kurang dapat sampai-hal ini juga aku rasakan saat membaca buku (khususnya buku-buku fiksi, bukan non fiksi) lainnya. Apalagi kata “I” diterjemahkan dengan “saya”, bukan “aku”. Aku berpikir bahwa suatu karangan akan lebih dapet sedihnya jika menggunakan kata “aku”, bukan “saya”.


Berikut ini akan aku ketikkan penggalan bab yang sedikit membuat aku meradang sekaligus membiru.


Bab 5, tentang Patrick
.....bahwa dia adalah mahasiswa junior di sebuah kampus lokal, berusia 20 tahun dan lajang. Dia terus menyangkal dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah mengira kalau dia sedang hamil, dan mengingat betapa kecilnya si bayi dan betapa besarnya dia-seseorang bahkan menyebut dia “gembrot”, hal tersebut tidak terlalu mengagetkan. Saya juga membaca bahwa dia tidak yakin siapa ayah bayinya-dia punya beberapa pacar selama enam bulan terakhir.....

....Ketika saya menanyakan hal-hal yang sejauh ini telah dia ketahui tentang bayinya, dia menanggapi dengan berkata,”Begini, saya telah memutuskan untuk merelakannya diadopsi. Saya tidak mungkin mengasuh seorang bayi atau membesarkan seorang anak dalam kondisi saya saat ini.....Saya tidak ingin terlalu dekat dengan bayi itu, jadi saya benar-benar tidak ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirinya dan saya juga tidak ingin melihatnya....” (page 87)


----- Walaupun begitu, buku ini merupakan salah satu buku yang bisa kita baca untuk mengetahui dunia kedokteran yang penuh dengan dinamika. Dan juga sekelumit potret tentang seks liberal di dunia barat....-----

Jumat, 11 Februari 2011

Yang aku sukai dari novel “Sakura” Nova Ayu Maulita (Komentar Tigapuluh Menit)

Setelah selama empat hari tiga malam berjumpa dengan para penulis keren seperti kang Abik, teh Pipiet Senja, Afifrah Afra, Sinta Yudisia, Sakti wibowo, Joni Ariadinata dan lain sebagainya di villa Eden Kaliurang, tanpa sadar virus semangat yang mereka bawa tiba-tiba masuk dalam tubuhku. Ghirah nulis langsung tinggi... Apalagi aku sempet menjatuhkan koper milik teh Pipiet pas buka bagasi. Bug..bug..toeng. Aku langsung panik, takut kalo isinya barang pecah belah (Apa hubungannya dengan ghirah menulis ya? krik krik krik....)


Baiklah...ehm..keesokan harinya setelah check out dari villa mewah itu, aku langsung menuju islamic book fair di GOR UNY. Sampai di sebuah stand, ada dua novel yang langsung mengingatkanku pada up-grading kemarin: Existere-nya mbak Sinta dan Sakura-nya mbak Ayu. Pengennya sih beli dua-duanya, tapi berhubung aku sedang ‘SAKURA’—Saku ku rata, maka aku beli satu aja deh. Dan buku yang dibeli pun sama: SAKURA. Sebuah kebetulan yang aneh. @_@ v


Mbak Nova Ayu Maulita, pemenang 3 RBA 2002: profilnya pernah aku baca saat aku masih SMA kelas 1 di Annida. Lebih tepatnya Annida no.03/XIV/1-15 Nopember 2004 (lengkapkan?! Aku punya klipingnya lho...). di artikel itu, mbak Ayu-nya senyum nyengir, pake jilbab putih krem, pake jas warna biru, n kacamata. Pas up-grading kemarin tampaknya ada juga, tapi kok beda ya dengan fotonya di Annida... jangan-jangan...tidaaaaaak...! he : )


Maklum, pas aku masuk FLP, mbak Ayu-nya pergi ke Jepang. Wah, tlisiban.


Cukup ya basa-basinya, setelah membaca novelnya mbak Ayu yang orang HI UGM, ada beberapa hal yang aku sukai. Silahkan disimak, jreeng...


Aku paling suka saat saat baca paragraf-paragraf yang membandingkan Indonesia dengan Jepang. Misalnya aja di halaman 26-27, “....padahal di Korea dan China ada catatan buruk bahwa Jepang adalah penjajah yang hingga saat ini harus dimusuhi. Satu hal hal yang tak pernah terbaca dalam buku catatan sejarah Indonesia. Di buku-buku pelajaranku hanya kutahu Indonesia dijajah Jepang tiga setengah tahun. Dan itu disampaikan datar-datar saja, tak ada emosi, tak ada kemarahan, apalagi rasa dendam. Entah apa karena bangsaku yang terlalu ramah tamah dan pemaaf atau justru terlalu bodoh?” Tampaknya aku setuju dengan mbak Ayu. Bukan hanya Jepang, bahkan kebiasaan yang dibawa Barat ke Indonesia dulu saat awal-awal pendudukan Belanda juga menjadi sesuatu yang “haram” diikuti. Tapi kini, orang kalo kebarat-baratan kok malah bangga, macam permasalahan sosial yang dibahas di novel tentang kehidupan barat yang bebas. Naudzubillah....(oh ya, btw motor mbak Ayu bukan buatan Jepang kan?! Hehehe pis mbak....)


Di halaman 43, juga disentil tentang pendidikan Indonesia yang sudah kadaluwarsa, “....kuliah di Indonesia juga penuh imajinasi, ketiadaan sarana dan prasarana masih mengganjal. Atau mungkin sama dengan teman-teman sastra-bahasa asing apapun, yang setelah lulus sarjana masih juga belum bisa bicara fasih bahasa asing. Sebenarnya apa yang salah dengan pendidikan Indonesia?” Yang ini juga setuju mbak! Tampaknya emang kayak gitu. Banyak siswa yang mulai belajar Bahasa Inggris sejak SD, tapi sampai SMA nggak lancar-lancar (sopo yo sing kesindir?? Aku hehehe...)



Pada halaman 85 pun juga demikian, “Jepang punya banyak aturan. Naik kereta harus baris, naik eskalator harus dari sisi kiri karena sisi kanan sengaja diluangkan untuk mereka yang berlari terburu mengejar waktu, di dalam kereta harus matikan handphone, hampir semua ada aturannya. Sedang di Indonesia semua aturan bisa dilanggar.” Begitu membacanya langsung mesem-mesem. Iyo e..pas kapan itu aku antri ATM...ujug-ujug ono sing nyrobot, pas antri ngeprint di kopma UNY...ono sing nyrobot juga, masuk ke trans Jogja...uyel-uyelan, masuk perpus...rame buanget...wis jan...Indonesia...Indonesia...Jadi pengen ke Jepang. Namaku jadi Sinichi Subatsa..(CURCOL).


Halaman 110-115, secara gamblang mbak Ayu menjabarkan “dosa-dosa” orang Indonesia. Saat ketidakteraturan menjadi hal yang lumrah. Petugas stasiun yang acuh n cuek bebek, sukanya jalan pintas (mis nembak kalo mau buat SIM)...., suka santai-santai, males-malesan, ogah-ogahan... kalau dipikir-pikir mirip patrick spong bok..hehehe.


Yang paling aku suka lagi saat adegan-adegan di maskam. Wah, jadi terasa dekeeeet banget. Saat kejadian di parkiran, di deket tempat wudhu, di depan kolam, di serambi yang banyak tiangnya...

Tapi ada beberapa yang membuat kurang nyaman. Misalnya aja ketikan nama yang kadang salah (TAKAYAKMA HIRO atau TAKAYAMA HIRO?). Kadang Takayakma...kadang Takayama. Lantas tentang koteka itu juga aku kurang suka, mending cari contoh lain saja.
Di halaman 58 ada paragraf seperti ini, “Andres duduk lagi, lalu meraih cangkir coklatnya. Tangannya mengambil sehelai keju lalu mencelupkannya dalam cairan coklat hangat itu. Perlahan coklat meleleh menyatu dalam coklat yang manis menggigit.” Menurutku yang meleleh itu keju-nya, bukan coklat. Masak coklat meleleh dalam coklat? Bukannya yang dimasukin tadi keju? (mungkin ya Mbak, namanya juga nebak...he)

Tapi Pokmen, bagus deh novelnya....jadi pengen menyusul untuk menerbitkan buku. Ayo semua pada teriak....”AAMIIIN....!!!”

Selasa, 01 Februari 2011

Layanan Berbasis Teknologi sebagai Sarana Mewujudkan Perpustakaan Ideal bagi Penyandang Tunanetra

Pendahuluan
Tunanetra merupakan salah satu jenis kelainan pada indra (sensory), yaitu kelainan pada indra penglihatan (mata),. Secara umun istilah tunanetra digunakan untuk menggambarkan kelainan penglihatan dari tingkatan ringan sampai berat atau buta. Dalam konteks pendidikan seseorang dikatakan tunanetra apabila untuk mencapai prestasi belajar yang optimal diperlukan berbagai adaptasi atau penyesuaian komponen pendidikan. Ketunanetraan ini berimplikasi langsung pada kemampuan tunanetra dalam mengakses informasi. Hal ini berarti bahwa kebutaan akan mengakibatkan keterbatasan dasar pada individu, seperti dalam jenjang variasi pengalaman, kemampuan memperoleh sesuatu atau melakukan perjalanan, dan mengontrol lingkungan dalam hubungannya dengan alam sekitar. Ketidakmampuan melihat secara awas ini mengakibatkan seorang tunanetra harus dapat mengkompensasikan keterbatasannya dengan mengoptimalkan indra yang lain. Hilangnya indra penglihatan akan membawa berbagai dampak baik secara mekanis maupun psikologis. Indra penglihatan merupakan indra pemadu segala rangsang yang diterima individu (Heri Purwanto, 1998:50). Fungsi indra pemadu ini secara mekanis kedudukannya tidak dapat tergantikan oleh indra yang lain. Akan tetapi, tidak berfungsinya indra penglihatan akan cenderung memfungsikan indra pendengaran dan perabaan secara intensif. Kondisi indra yang demikian yang demikian akan membawa konsuekuensi pada layanan pendidikan, khususnya dalam aspek pengolahan informasi dan pengelolaan perpustakaan agar assesibel bagi penyandang tunanetra. Secara umum ketunanetraan tidak secar otomatis menimbulkan inteligensi rendah. Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, tidak ada hubungan antara tingkat IQ dengan ketunanetran. Keadaan inteligensi tunanetra tidak berbeda dengan orang normal. tetapi ada pula kecerdasan yang diatas rata-rata dan dibawah rata-rata. Tilman dan Osborne (Sari Rudiyati, 2003:14) membandingkan antara anak tunanetra dan anak normal menunjukkan anak tunanetra akan mempertahankan pengalamanannya tetapi tidak dapat mengintergasi dengan pengalaman lainnya sebagaimana anak normal. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan anak tunanetra masih kurang lengkap jikalau dibanding dengan anak normal. Namun sayangnya, salah satu sumber belajar masyarakat yang ada (perpustakaan) tidak begitu memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi yang ada. Perpustakaan yang ada sekarang hanya menyediakan buku-buku awas dan tidak memiliki layanan khusus bagi penyandang tunanetra. Jelas hal ini sangat merugikan para penyandang tunanetra karena informasi yang mereka dapatkan sangatlah sedikit. Oleh sebab itu diperlukan layanan khusus bagi penyandang tunanetra agar dapat memperoleh informasi yang disediakan di perpustakaan. Salah satu layanan yang diharapkan ada adalah layanan berbasis teknologi. Layanan berbasis teknologi bagi tunanetra yang mempunyai kelainan diharapkan dapat membantu penyandang tunanetra untuk dapat mengakses informasi. Berbagai alat bantu yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak yang menaruh minat pada teknologi layanan bagi tunanetra, menghasilakan alat-alat yang bersifat manual, mekanis, sampai alat elektronik yang canggih, seperti Komputer dengan program JAWS, Printer Braille (Impact Printer), Open Book scanner, DAISY Player (Digital Ascesible System Player), Buku bicara (Digital Talking Book), Termoform, dan telesensory. Dengan adanya layanan perpustakaan berbasis teknologi, seyogyanya dapat mempermudah dan atau memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi yang tidak dapat mereka peroleh karena keterbatasaan dalam dria visual. Layanan perpustakaan berbasis teknologi dapat juga memotivasi penyandang tunanetra mencintai perpustakaan dan sebagai salah satu alternative mewujudkan perpustakaan ideal bagi penyandang tunanetra. Permasalahan Salah satu sumber belajar masyarakat yang ada (perpustakaan) tidak begitu memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi. Perpustakaan yang ada sekarang hanya menyediakan buku-buku awas dan tidak memiliki layanan khusus bagi penyandang tunanetra. Jelas hal ini sangat merugikan para penyandang tunanetra karena informasi yang mereka dapatkan sangat terbatas. TujuanLayanan perpustakaan berbasis teknologi ini dfapat mempermudah dan memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi yang tidak dapat mereka peroleh karena keterbatasaan dalam penglihatan. Selain itu diharapkan penyandang tunanetra termotivasi untuk mencintai perpustakaan dan memberikan memberikan alternatif dalam mewujudkan perpustakaan ideal bagi penyandang tunanetra Landasan TeoriSecara etimologis, tuna berarti rusak, kurang atau tiada memiliki. Netra berarti mata atau dria penglihatan. Jadi tunanetra berarti kodisi luka atau rusaknya mata/ dria penglihatan shingga mengakibatkan kurang atau tiada memuliki kemampuan persepsi penglihatan. Menurut Frans Harsana Sasraningrat (dalam Sari Rudiyati, 2002) definisi tunanetra ialah suatu kondisi dari dria penglihat yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini disebabkan oleh karena kerusakan pada mata, syaraf optik, dan atau bagian otak yang mengolah stimulus visual. Secara umum anak tunanetra mengalami kerusakan pada indra penglihatannya, sehingga mengalami gangguan dalam penglihatan. Klasifikasi penyandang tunanetra dalam Ortodidaktik Anak Tunanetra (Sari Rudiyati, 2003:9) menyebutkan sebagai berikut: (1) Buta Total, Anak tunanetra yang termasuk buta total apabila anak sudah tidak dapat lagi bereaksi terhadap rangsangang cahaya yang diterimanya walaupun telah menggunakan alat bantu. (2) Anak kurang lihat (low vision), adalah alat tunanetra yang memiliki sisa penglihatan tetapi dalam memanfaatkan sisa penglihatan tersebut, diperlukan alat bantu penglihatan. Dengan keadaan tunanetra yang cukup beragam, maka diperlukan berbagai macam teknologi yang dapat mempermudah kehidupan mereka. Istilah teknologi menurut Rifyanto Bakri (2007) menerangkan bahwa teknologi itu bersifat fisik, yakni yang dapat dilihat secara inderawi. Teknologi dalam arti ini dapat diketahui melalui barang-barang, benda-benda, atau alat-alat yang berhasil dibuat oleh manusia untuk memudahkan dan menggampangkan realisasi hidupnya di dalam dunia. Hal mana juga memperlihatkan tentang wujud dari karya cipta dan karya seni (Yunani techne) manusia selaku homo technicus. Dari sini muncullah istilah "teknologi", yang berarti ilmu yang mempelajari tentang "techne" manusia. (http://rbsamarinda.blogspot.com/2007/12/pengertian-teknologi.html) Pembahasan Tunanetra pada hakikatnya adalah suatu kondisi dari mata atau dria penglihatan yang karena sesuau hal tidak berfungsi sebagai mana mestinya, sehingga mengalamai keterbatasan dan atau ketidakmampuan melihat. Secara etimologi, tunanetra berasal dari dua kata, yaitu tuna yang berarti luka, rusak, kurang atau tiada memiliki dan netra yang berarti mata atau dria penglihatan (Sari Rudiyati, 2003: 4). Secara teoritis, kelainan pada mata seperti kebutan terjadi bila ketajaman penglihatan lebih buruk dari 20/200, meskipun telah dibantu dengan kacamata maupun lensa kontak sekalipun. Kebutaan bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti cahaya tidak dapat mencapai retina, retina tidak dapat merasakan cahaya secara normal, kelainan penghantaran gelombang syaraf dari retina ke otak, maupun otak tidak dapat menerjemahkan informasi yang dikirim oleh mata (Oei Gin Djing, 2008:18). Ketunanetraan ini berimplikasi langsung pada kemampuan dirinya (tunanetra) dalam mengakses informasi. Hal ini berarti bahwa kebutaan akan mengakibatkan keterbatasan dasar pada individu, seperti dalam jenjang variasi pengalaman, kemampuan memperoleh sesuatu atau melakukan perjalanan, dan mengontrol lingkungan dalam hubungannya dengan alam sekitar. Ketidakmampuan melihat secara awas ini mengakibatkan seorang tunanetra harus dapat mengkompensasikan keterbatasannya dengan mengoptimalakan indra yang lain. Hilangnya indra penglihatan akan membawa berbagai dampak baik secara mekanis maupun psikologis. Indra penglihatan merupakan indra pemadu segala rangsang yang diterima individu (Heri Purwanto, 1998:50). Fungsi indra pemadu ini secara mekanis kedudukannya tidak dapat tergantikan oleh indra yanag lain. Akan tetapi, tidak berfungsinya indra penglihatan akan cenderung memfungsikan indra pendengaran dan perabaan secara intensif. Kondisi indra yang demikian yang demikian akan membawa konsuekuaensi pada layanan pendidikan, khususnya dalam aspek pengolahan informasi dan pengelolaan perpustakaan agar assesibel bagi penyandang tunanetra. Pada prinsipnya pengelolaan perpustakaan dan lingkungan belajar penyandang tunanetra sama dengan pengelolaan perpustakaan dan lingkungan belajar orang-orang nonberkebutuhan khusus. Namun demikian ada hal-hal khusus yang tidak menjadi kebutuhan orang pada umumnya tetapi menjadi kebutuhan penyandang tunanetra. Oleh karena itu perpustakaan dan lingkungan belajar penyandang tunanetra perlu dikelola oleh pihak yang tetkait dengan strategi khusus antara lain, (1) Setiap ruang perpustakaan, tempat dimana penyandang tunanetra memperoleh infiormasi dan tempat duduk, meja, sampai rak-rak buku perlu diberi tanda yang dapat diraba oleh penyandang tunanetra. Tanda ini dapat berupa tulisan huruf Braille maupun tanda-tanda tertentu, misalnya relief-relief gambar, (2) Pengaturan ruangan hendaknya memperhatikan keleluasaan gerak pada penyandang tunanetra agar tidak mengganggu mobilitas mereka. Ruangan hendaknya tidak terlalu sempit dan jarak antara rak satu dengan rak lainnya dapat dilalui oleh dua orang atau lebih, (3) Layanan berbasis teknologi diperlukan bagi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi. Layanan perpustakaan bagi tunanetra yang mempunyai kelainan sedemikian rupa tentu saja memerlukan berbagai alat yang dapat membantu penyandang tunanetra untuk dapat mengakses informasi. Berbagai alat bantu yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak yang menaruh minat pada teknologi layanan bagi tunanetra, menghasilakan alat-alat yang bersifat manual, mekanis, sampai alat elektronik yang canggih. Adapun peralatan yang digunakan penyandang tunanetra untuk dapat membantu mengakses informasi di perpustakaan adalah: (1) Komputer dengan program JAWS. Komputer yang memudahkan penyandang tunanetra mengakses informasi dari internet maupun ketika mengetik adalah computer yang memiliki aplikasi screen reader yang disebut JAWS (Job Acces With Speech). Cara kerja aplikasi screen reader yaitu komputer menerangkan tampilan yang ada pada layar monitor (screen) dengan suara. Mulai dari menu program yang tersedia, sampai menginformasikan dimana letak kursor dan menerangkan tulisan apa saja yang terbaca pada screen (membaca kata perkata maupun huruf demi huruf). Suara yang dihasilkan oleh JAWS terkesan seperti robot yang berlogat barat. Kecepatannya pun dapat diatur, dipercepat maupun diperlambat. Program JAWS dapat juga mentranslate kata dari Bahasa Indonesia ke bahasa Inggris (saduran dari kamus Hasan Sadili). Pembrailannya pun menggunakan dua program, yaitu Duxbury dan MBC. Duxburi merupakan program dari luar negeri, sedangkan MBC (Mitra Netra Braille Conventer) berasal dari Indonesia. Persamaan dari keduanya adalah dapat mengubah tulisan Braille ke tulisan awas maupun sebaliknya. Namun, proses ini memilki kelemahan yaitu file yang disimpan formatnya akan berubah dan simbol-simbol khusus (misal arab dan metematika) tidak dapat dikonversikan langsung. (2) Printer Braille (Impact Printer). Printer ini memiliki cara kerja yang mirip dengan printer dot matrix. Proses pencetakan dilakukan dengan cara pengetukan pada kertas, sehingga printer ini lebih bersuara jika dibandingkan dengan printer tinta. Printer braille terdiri dari dua tipe, yaitu COMET dan BRAILLO NORWAY (tipe 200 dan 400). Perbedaan dari dua tipe ini terletak pada hasil cetakannya. Printer COMET hanya dapat mencetak dari dua sisi (satu muka), sedangkan BRAILLO NORWAY dapat mencetak dua sisi (bolak-balik). (3) Open Book scanner. Open book scanner memiliki cara kerja yang hampir sama dengan scanner biasa. Hanya saja open book scanner ini masih dapat membaca tulisan walaupun dengan kertas yang terbalik (atas bawah). Hal ini memudahkan tunanetra untuk meletakkan kertas discanner tanpa harus khawatir tulisan tidak dapat terbaca karena terbalik. Namun, Open Book Scaner ini memiliki kelemahan yaitu tidak dapat membaca tabel secara horizontal. (4) DAISY Player (Digital Ascesible System Player). DAISY Player digunakan untuk mempermudah penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi dari buku tertentu yang telah diubah menjadi bentuk suara. Kecepatan dan volume suara dapat diatur sedemukian rupa sesuai kebutuhan. Buku bicara yang digunakan untuk DAISY player ini berupa compact disk. (5) Buku bicara (Digital Talking Book). Buku bicara pada dasarnya memilki cara kerja yang hampir sama dengan buku bicara dalam bentuk compact disk (CD). Hanya saja pengoperasian kaset bicara harus menggunakan radio tape. (6) Termoform merupakan mesin pengganda (copy) bacaan penyandang tunanetra dengan penggunakan kertas khusus, yaitu braillon. (7) Telesensory merupakan suatu alat yang digunakan untuk memperbesar huruf awas agar terbaca oleh penderita tunanetra low vision. Berdasarkan gagasan tersebut, layanan berbasis teknologi seyogyanya dapat diterapkan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia untuk mempermudah dan atau memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi yang tidak dapat mereka peroleh karena keterbatasaan dalam penglihatan. Dengan adanya layanan ini diharapkan penyandang tunanetra termotivasi untuk mencintai perpustakaan dan merasa hak-hak mereka terpenuhi. Manfaat yang dapat diperoleh datri penulisan artikel ini adalah memberikan alternatif untruk meningkatkan kazanah keilmuan terutama dalam bidang pendidikan anak berkebutuhan khsus untuk mewujudkan perpustakaan ideal bagi penyandang tunanetra. Kesimpulan dan Saran Tunanetra merupakan salah satu jenis kelainan pada indra (sensory), yaitu kelainan pada indra penglihatan (mata),. Ketunanetraan ini berimplikasi langsung pada kemampuan tunanetra dalam mengakses informasi. Hilangnya indra penglihatan akan membawa berbagai dampak baik secara mekanis maupun psikologis. Indra penglihatan merupakan indra pemadu segala rangsang yang diterima individu (Heri Purwanto, 1998:50) Tidak berfungsinya indra penglihatan akan cenderung memfungsikan indra pendengaran dan perabaan secara intensif. Kondisi indra yang demikian yang demikian akan membawa konsuekuensi pada layanan pendidikan, khususnya dalam aspek pengolahan informasi dan pengelolaan perpustakaan agar assesibel bagi penyandang tunanetra. Secara umum ketunanetraan tidak secar otomatis menimbulkan inteligensi rendah. Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, tidak ada hubungan antara tingkat IQ dengan ketunanetran. Namun sayangnya, salah satu sumber belajar masyarakat yang ada (perpustakaan) tidak begitu memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi yang ada. Perpustakaan yang ada sekarang hanya menyediakan buku-buku awas dan tidak memiliki layanan khusus bagi penyandang tunanetra.. Oleh sebab itu diperlukan layanan khusus bagi penyandang tunanetra agar dapat memperoleh informasi yang disediakan di perpustakaan. Salah satu layanan yang diharapkan ada adalah layanan berbasis teknologi., seperti Komputer dengan program JAWS, Printer Braille (Impact Printer), Open Book scanner, DAISY Player (Digital Ascesible System Player), Buku bicara (Digital Talking Book), Termoform, dan telesensory. Dengan adanya layanan perpustakaan berbasis teknologi, diharapkan dapat memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi, memotivasi penyandang tunanetra mencintai perpustakaan dan alternative mewujudkan perpustakaan ideal bagi penyandang tunanetra. Pihak yang terkait seyogyanya juga lebih memperhatikan penyandang tunanetra dengan memberikan layanan perpustakaan berbasis teknologi agar supaya penyandang tunanetra termotivasi untuk mencintai perpustakaan. Daftar Pustaka Djing, Oei Gin. (2008). Terapi Mata dengan Pijat dan Ramuan. Jakarta: Penebar Plus. Purwanto. Heri. (1998). Diklat Ortopedagogik Umum. Yogyakarta: FIP Universitas Negeri Yogyakarta. Rifyanto Bakri. (2007). Pengertian Teknologi. http://rbsamarinda.blogspot.com/2007/12/pengertian-teknologi.html. akses 29 September 2009. Rudiyati, sari. (2003). Ortodidaktik Anak Tunanetra (Buku Pegangan Kuliah). Yogyakarta: FIP Universitas Negeri Yogyakarta.

school mapping hazard mutlak disosialisasikan kepada penyandang disabilitas di daerah rawan bencana

Satu dari lima prioritas pelaksanaan kegiatan dalam Kerangka Kerja Hyogo (HFA) pada tahun 2005-2015 adalah membangun bangsa dan masyarakat...